MENGALIR DALAM BERKAT: RATUSAN UMAT HADIRI MISA PENUTUPAN BULAN MARIA DI GUA MARIA GRABAG
GRABAG, KEDU – Semilir angin sejuk dan gema doa Rosario yang syahdu menutup lembaran bulan Mei di pelataran Gua Maria Grabag pada Minggu (31/05/2026). Bersamaan dengan perayaan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, tempat peziarahan yang berada di bawah reksa pastoral Paroki Santa Maria Fatima Magelang ini kembali menjadi saksi iman bagi ratusan umat yang hadir dalam Misa Penutupan Bulan Maria.
Tepat pukul 09.00 WIB, suasana khidmat menyelimuti perarakan liturgi yang dimulai dari Kapel St. Yusuf Grabag menuju area Gua Maria. Misa syukur ini dirayakan secara konselebrasi dengan selebran utama Romo Antonius Dodit Haryono, Pr. (Vikaris Episkopal/Vikep Kedu), didampingi oleh Romo Ignatius Adi Sapto Wibowo, Pr. (Romo Kepala Paroki Magelang) serta Romo Heribertus Warnata Nata Wardaya, Pr. (Romo Vikaris Paroki).

Memahami Tritunggal Melalui Kacamata Iman
Dalam homilinya, Romo Vikep, Antonius Dodit Haryono mengupas esensi dari Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Beliau menegaskan bahwa dalam pandangan iman Katolik, Allah tetaplah satu (monoteisme), namun mencakup tiga pribadi yang ilahi.
Uniknya, Romo Dodit menggunakan pendekatan budaya Jawa untuk menjelaskan misteri ini agar lebih mudah dipahami umat. Beliau menjelaskan bahwa konsep Trinitas bukanlah soal hitungan matematika.
"Dalam bahasa Jawa, konsep ini bukan soal jejeran (bersebelahan secara fisik atau jumlah), melainkan jejer yang berarti subjek atau peran yang satu dan tak terpisahkan," ungkap Romo Dodit.

Oase Iman dan Keharmonisan Sosial
Gua Maria Grabag memang bukan sekadar destinasi wisata religius biasa. Bagi banyak peziarah, tempat ini adalah oase iman yang penuh rahmat. Sejak awal pembangunannya yang diwarnai kisah-kisah luar biasa, tempat ini terus mengalirkan kesaksian tentang doa-doa yang dikabulkan. Tak heran jika peziarah yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Magelang, tetapi juga berdatangan dari berbagai kota lain.
Keindahan perayaan siang itu tidak hanya terpancar dari liturgi yang syahdu di altar, tetapi juga dari harmoni yang tercipta di lapangan. Sinergi yang apik antara Tim Pelayanan Keamanan Paroki, aparat kepolisian, serta warga masyarakat sekitar menjadi bukti nyata bahwa kehadiran Gua Maria Grabag membawa dampak positif, berkat, dan kedamaian bagi lingkungan sosial sekitarnya.
Misa diakhiri dengan pancaran sukacita di wajah seluruh umat yang hadir. Mereka pulang tidak hanya membawa botol-botol berisi air suci atau kenangan foto, melainkan membawa damai sejati dan semangat baru untuk kembali ke rutinitas harian sebagai saksi-saksi Kristus yang hidup.