Menemukan Wajah Kristus di Boro: Catatan Reflektif Aksi Kasih Paskah Lingkungan St. Lidwina Sanden

Sabtu, 02 Mei 2026
Lingkungan Aksi Kasih Paskahan Ziarah Rohani
Menemukan Wajah Kristus di Boro: Catatan Reflektif Aksi Kasih Paskah Lingkungan St. Lidwina Sanden

MAGELANG – Kabut tipis masih menyelimuti Stadion Moch. Soebroto ketika fajar menyingsing di hari Jumat, 1 Mei 2026. Namun, dinginnya pagi itu tak menyurutkan semangat langkah umat Lingkungan Santa Lidwina Sanden, Paroki Santa Maria Fatima Magelang. Hari itu bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah peziarahan hati untuk mewujudkan tema Ardas Keuskupan Agung Semarang 2026-2030: “Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”

Merangkul Masa Depan di Bumi Boro

Tujuan pertama rombongan adalah Panti Asuhan Putra Sancta Maria Boro. Di sana, Bruder Bonifasius Kasma Rahardja, FIC (Bruder Boni) menyambut dengan hangat. Ada 37 anak dari penjuru Nusantara—dari Sumatera hingga Papua—yang meniti mimpi di bawah asuhan para Bruder FIC.

Melihat keberagaman asal-usul mereka, kita diingatkan bahwa Gereja adalah rumah bagi semua. Kunjungan ini menjadi refleksi mendalam bahwa kepedulian kecil kita adalah bentuk dukungan bagi tunas-tunas muda yang akan menjadi masa depan bangsa dan Gereja.

Langkah kasih berlanjut ke Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji. Sr. M. Christera, OSF berbagi kisah tentang 100 anak asuhannya—baik yang tinggal di dalam panti maupun mereka yang dibantu di luar panti. Sebuah momen menyentuh terjadi saat anak-anak panti menyuguhkan atraksi kulintang, nyanyian, dan tarian.

Di balik keterbatasan yang ada, terpancar binar kebahagiaan yang tulus. Hal ini menjadi cermin bagi umat: Sudahkah kita bersyukur atas kecukupan yang kita miliki hari ini? Bantuan yang diberikan umat bukan sekadar materi, melainkan "tanda cinta" yang membuktikan bahwa mereka tidak sendirian.

Belajar Kebijaksanaan dari Para Adiyuswa

Suasana penuh haru sekaligus ceria menyelimuti Panti Wredha Santa Monika. Di sini, para oma (adiyuswa) menyambut umat dengan kelincahan yang luar biasa. Sr. Florentine, OSF menyaksikan betapa kehadiran umat menjadi obat penawar rindu bagi para penghuni panti.

Menonton para oma menyanyi, menari, bahkan memainkan organ, menyadarkan kita bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap memuliakan Tuhan dengan sukacita. Mereka mengajari kita tentang ketabahan dan cara menjalani masa tua dengan penuh kepasrahan kepada-Nya.

Menimba Kekuatan di Sendang Sono

Setelah berbagi kasih dengan sesama, peziarahan ditutup dengan menyentuh akar spiritualitas di Makam Pastor JB Prennthaler, S.J. dan Goa Maria Sendang Sono. Di makam sang misionaris, umat merenungkan kembali semangat pengabdian yang tak kenal lelah.

Di bawah kaki Bunda Maria, suasana hening menyelimuti doa rosario bersama. Di tempat ini, segala lelah raga terbayar oleh ketenangan jiwa. Doa-doa pribadi yang dipanjatkan menjadi penutup yang manis, membawa segala niat baik kembali ke tangan Tuhan.

Kembali dengan Sukacita

Perjalanan pulang menuju Magelang bukan lagi membawa beban, melainkan membawa bejana hati yang penuh dengan sukacita. Pengalaman hari itu membuktikan bahwa dengan berbagi, kita tidak kehilangan, melainkan justru diperkaya.

Semoga aksi sosial Lingkungan St. Lidwina Sanden ini terus menginspirasi kita semua untuk menjadi Gereja yang benar-benar hadir dan menyejahterakan sesama, tidak hanya di masa Paskah, tetapi dalam setiap embusan napas kehidupan kita.

Ketua Lingkungan Santa Lidwina Sanden, Robertus Agus Wibowo mengungkapkan, bahwa acara ini sungguh menjadi suatu kegiatan yang baik dan bisa menjadi kegiatan yang rutin dilakukan dalam rangka meningkatkan rasa belas kasih kepada sesama.

Tuhan Memberkati.

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita