Membawa Sukacita Altar ke Tengah Umat: Anjangsana dan Penyegaran Prodiakon Magelang di Ngablak

Sabtu, 30 Mei 2026
Prodiakon Anjangsana Penyegaran Ngablak
Membawa Sukacita Altar ke Tengah Umat: Anjangsana dan Penyegaran Prodiakon Magelang di Ngablak

NGABLAK – Rabu, 27 Maret 2026, suasana lereng pegunungan Merbabu, Sindoro, dan Sumbing terasa begitu syahdu. Cahaya matahari pagi yang menembus rindangnya pepohonan di kompleks Gereja Santo Petrus dan Paulus Ngablak seolah ikut menyambut kehadiran para prodiakon dari Paroki Santa Maria Fatima Magelang. Hari itu, mereka berkumpul bukan sekadar untuk berkunjung, melainkan untuk mengadakan anjangsana dan penyegaran rohani di paroki yang dulunya merupakan bagian dari wilayah Paroki Magelang tersebut.

Acara diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Koordinator Prodiakon, Antonius Harminto. Memasuki sesi sambutan, Kabid Liturgi Paroki Santa Maria Fatima, Yulius Indra Pratyaksa, memberikan pemantik semangat yang mendalam.

"Prodiakon tidak semata-mata bertugas di sekitar altar, tetapi harus mampu menebarkan kebahagiaan serta menjadi inspirasi, sehingga pada akhirnya menjadi sumber kesejahteraan bagi umat," ungkap Indra.

Kembali ke Akar: Memahami Hakikat Pelayanan

Dikemas dalam bentuk rekoleksi, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber. Sesi pertama dibawakan oleh Gregorius Yulityas Pratyaksa dari Komisi Liturgi Kevikepan Kedu. Dalam materinya yang bertajuk "Mengenal Prodiakon/Asisten Imam", Gregorius Tyas mengingatkan kembali esensi dasar dari tugas seorang prodiakon.

Sebagai pelayan liturgi yang membantu imam, tugas prodiakon bersifat sementara dan dilakukan atas izin imam demi mengakomodasi perkembangan jumlah umat yang kian bertambah. Beliau juga menekankan pentingnya spiritualitas prodiakon:

  • Didasari oleh kekuatan Roh Kudus.
  • Menerima tugas sebagai panggilan dan persembahan hidup.
  • Menghidupi semangat doa dan giat berekaristi.
  • Rela berbagi dan memiliki semangat untuk terus belajar.

Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan

Pada sesi kedua, Romo Kepala Paroki Santo Petrus dan Paulus Ngablak, Romo Stephanus Koko Pujiwahyulistyono, Pr. (Romo Koko), mengajak para peserta mendalami tema "Prodiakon yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan" melalui terang Kitab Suci (Kis. 20:18-35 dan Mat. 5:1-5).

Menurut Romo Koko, pelayanan seorang prodiakon harus dilandasi sikap rendah hati dan kesiapan menjadi saksi Injil.

  • Bahagia: Hadir ketika pelayanan dilakukan dengan tulus dan saat diri kita membawa manfaat bagi sesama.
  • Menginspirasi: Mampu memberikan dorongan, ide, dan semangat baru bagi umat.
  • Sejahtera: Dihayati bukan secara materi, melainkan sebagai sikap batin yang merasa cukup dan tidak berlebihan.

Romo Koko mengajak para prodiakon belajar dari ketaatan Bunda Maria serta meneladani Yesus di Taman Getsemani—menyerahkan segala pelayanan pada penyelenggaraan Ilahi. Sebagai penutup, sebuah ayat reflektif dari Roma 1:1 digubah indah untuk merangkum panggilan ini: “Dari saya, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi Prodiakon dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.”

Momen penyegaran ini kemudian dipuncaki dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Romo Koko, lalu ditutup dengan ramah tamah serta kebersamaan yang hangat. Para prodiakon pun pulang membawa sukacita yang penuh.

Sejenak Merenung: Refleksi Panggilan di Antara Altar dan Umat

Pertemuan di Ngablak ini bukan sekadar agenda tahunan atau ajang reuni wilayah. Di balik indahnya pemandangan lereng gunung yang mengelilingi gereja, ada sebuah refleksi mendalam tentang makna sebuah panggilan.

Seringkali, kita melihat prodiakon sebagai sosok jubah putih yang berwibawa di sekitar altar saat Misa. Namun, rekoleksi ini mengingatkan bahwa jubah putih itu adalah simbol "hamba". Tugas prodiakon tidak berhenti ketika Misa selesai dan sakristi ditutup. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika mereka melangkah keluar dari pintu gereja dan kembali ke tengah keluarga serta masyarakat.

Menjadi prodiakon yang bahagia berarti menemukan sukacita dalam ketulusan, bukan dalam kehormatan jabatan. Ketika pelayanan di altar mampu dihidupi dalam tindakan nyata sehari-hari—menjadi teladan doa, pembawa damai, dan pribadi yang solider terhadap sesama—saat itulah seorang prodiakon benar-benar menginspirasi dan menyejahterakan umat.

Seperti pesan di Taman Getsemani, pelayanan ini pada akhirnya adalah tentang mengikis ego: "Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi." Semoga para prodiakon Paroki Santa Maria Fatima Magelang senantiasa dikuatkan oleh Roh Kudus untuk menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan yang menyembuhkan dan menggembirakan.

Berita Terbaru

Lihat Semua Berita